A. Konsep Sehat
Konsep
sehat pada masyarakat awam lebih merujuk kepada keadaan fisik jasmaniah
seseorang yaitu sehat atau sakit. Akan tetapi sesungguhnya konsep sehat tidak
hanya dari segi fisik saja, tedapat
dimensi-dimensi lain seperti emosi, intelektual, sosial dan spiritual. WHO
mendefinisikan kesehatan sebagai: “… keadaan (status) sehat utuh secara fisik,
mental (rohani) dan sosial, dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari
penyakit, cacat dan kelemahan … “ (Smet, 1994). Sehat sendiri dapat dikatakan
sebagai suatu kondisi normal, nyaman dan bahagia baik secara fisik , emosi
(EQ), intelektual (IQ), spritual (SQ) dan sosial. Serta dapat melakukan
aktivitas sehari-hari tanpa terganggu. Sedangkan sakit itu sendiri diartikan
sebagai keadaan fisik tubuh yang terganggu yang menyebabkan perasaan tidak
nyaman dan tidak mengenakan.
Konsep
sehat menurut Parkins (1938) adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara
bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya. Sedangkan
menurut White (1977), Sehat adalah suatu keadaan di mana seseorang pada waktu
diperiksa tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu
penyakit dan kelainan. WHO pun mengembangkan defenisi tentang sehat. Konsep
sehat menurut WHO tahun 1974, menyebutkan bahwa sehat adalah keadaan sempurna
dari fisik, mental, sosial, tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.
Konsep-konsep
kesehatan dikembangkan berdasarkan :
1.
Dimensi Emosional
Menurut
Goleman, emosional merupakan hasil campur dari rasa takut, gelisah, marah,
sedih dan senang. Orang yang sehat
secara emosi dapat terlihat dari kestabilan dan kemampuannya mengontrol dan
mengekspresikan perasaan (marah, sedih atau senang) secara tidak berlebihan.
2.
Dimensi Intelektual
Kesehatan
intelektual meliputi usaha untuk secara terus-menerus tumbuh dan belajar untuk
beradaptasi secara efektif dengan perubahan baru. Bagaimana seseorang berfikir,
wawasannya, pemahamannya, alasannya, logika dan pertimbangnnya. Dikatakan sehat secara intelektual yaitu jika seseorang
memiliki kecerdasan dalam kategori yang baik mampu melihat realitas. Memilki
nalar yang baik dalam memecahkan masalah atau mengambil keputusan.
3.
Dimensi Fisik
Menurut
dimensi fisik, seseorang dikatakan sehat secara fisiologis (fisik) bila
terlihat normal, tidak cacat, tidak
mudah sakit, tidak kekurangan sesuatu apapun. Kesehatan fisik terwujud apabila
sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang
secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau
tidak mengalami gangguan.
4.
Dimensi Sosial
Kesehatan
sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau
kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan,
status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan
menghargai. Sehat secara sosial dapat dikatakan mereka yang bisa berinteraksi
dan berhubungan baik dengan sekitarnya mampu untuk bekerja sama. Tingkah laku
manusia dalam kelompok sosial, keluarga, pernihakan, dan sesama lainnya,
penerimaan norma sosial dan pengendalian tingkah laku.
5.
Dimensi Spiritual
Spiritual
merupakan kehidupan kerohanian. Dengan menyerahkan diri dengan bersujud dengan
kepercayaan agama masing-masing. Sementara orang yang sehat secara spiritual
adalah mereka yang memiliki suatu kondisi ketenangan jiwa dengan id mereka.
Secara rohani dianggap sehat karena pikirannya jernih tidak melakukan atau
bertindak hal-hal yang diluar batas kewajaran sehingga bisa berpikir rasional.
Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa
syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam
fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa.
v Sejarah Perkembangan Kesehatan
Mental
Zaman
Prasejarah
Manusia
purba sering mengalami gangguan mental atau fisik, seperti infeksi, artritis,
dll.
Zaman
peradaban awal
1.
Phytagoras (orang yang pertama memberi penjelasan alamiah terhadap penyakit
mental)
2.
Hypocrates (Ia berpendapat penyakit / gangguan otak adalah penyebab penyakit
mental)
3.
Plato (gangguan mental sebagian gangguan moral, gangguan fisik dan sebagiaan
lagi dari dewa dewa)
Zaman
Renaissesus
Pada
zaman ini di beberapa negara Eropa, para tokoh keagamaan, ilmu kedokteran dan
filsafat mulai menyangkal anggapan bahwa pasien sakit mental tenggelam dalam
dunia tahayul.
Era
Pra Ilmiah
1.
Kepercayaan Animisme
Sejak
zaman dulu gangguan mental telah muncul dalam konsep primitif, yaitu
kepercayaan terhadap faham animisme bahwa dunia ini diawasi atau dikuasai oleh
roh-roh atau dewa-dewa. Orang Yunani kuno percaya bahwa orang mengalami
gangguan mental, karena dewa marah kepadanya dan membawa pergi jiwanya. Untuk
menghindari kemarahannya, maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji)
dengan mantra dan kurban.
2.
Kepercayaan Naturalisme
Suatu
aliran yang berpendapat bahwa gangguan mental dan fisik itu akibat dari alam.
Hipocrates (460-367) menolak pengaruh roh, dewa, setan atau hantu sebagai
penyebab sakit. Dia mengatakan, Jika anda memotong batok kepala, maka anda akan
menemukan otak yang basah, dan mencium bau amis. Tapi anda tidak akan melihat
roh, dewa, atau hantu yang melukai badan anda.
Seorang
dokter Perancis, Philipe Pinel (1745-1826) menggunakan filsafat polotik dan
sosial yang baru untuk memecahkan problem penyakit mental. Dia terpilih menjadi
kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di rumah sakit ini, pasiennya dirantai,
diikat ketembok dan tempat tidur. Para pasien yang telah di rantai selama 20
tahun atau lebih, dan mereka dianggap sangat berbahaya dibawa jalan-jalan di
sekitar rumah sakit. Akhirnya, diantara mereka banyak yang berhasil, mereka
tidak lagi menunjukkan kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya.
Era
Modern
Perubahan
luar biasa dalam sikap dan cara pengobatan gangguan mental terjadi pada saat
berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika pada tahun 1783.
Ketika itu Benyamin Rush (1745-1813) menjadi anggota staf medis di rumah sakit
Pensylvania. Di rumah sakit ini ada 24 pasien yang dianggap sebagai lunatics
(orang gila atau sakit ingatan). Pada waktu itu sedikit sekali pengetahuan
tentang penyebab dan cara menyembuhkan penyakit tersebut. Akibatnya
pasien-pasien dikurung dalam ruang tertutup, dan mereka sekali-kali diguyur
dengan air.
Rush
melakukan suatu usaha yang sangat berguna untuk memahami orang-orang yang
menderita gangguan mental tersebut melalui penulisan artikel-artikel. Secara
berkesinambungan, Rush mengadakan pengobatan kepada pasien dengan memberikan
dorongan (motivasi) untuk mau bekerja, rekreasi, dan mencari kesenangan.
Pada
tahun 1909, gerakan mental Hygiene secara formal mulai muncul. Perkembangan
gerakan mental hygiene ini tidak lepas dari jasa Clifford Whitting Beers
(1876-1943) bahkan karena jasanya itu ia dinobatkan sebagai The Founder of the
MentalHygiene Movement. Dia terkenal karena pengalamannya yang luas dalam
bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat
manusiawi.
Secara
hukum, gerakan mental hygiene ini mendapat pengakuan pada tanggal 3 Juli 1946,
yaitu ketika presiden Amerika Serikat menandatangani The National Mental Health
Act., yang berisi program jangka panjang yang diarahkan untuk meningkatkan
kesehatan mental seluruh warga masyarakat.
Bebarap
tujuan yang terkandung dalam dokumen tersebut meliputi
1)
Meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat Amerika Serikat, melalui
penelitian, investigasi, eksperimen, penayangan kasus-kasus, diagnosis, dan
pengobatan.
2)
Membantu lembaga-lembaga pemerintah dan swasta yang melakukan kegiatan
penelitian dan meningkatkan koordinasi antara para peneliti dalam melakukan
kegiatan dan mengaplikasikan hasil-hasil penelitiannya.
3)
Memberikan latihan terhadap para personel tentang kesehatan mental.
4)
Mengembangkan dan membantu negara dalam menerapkan berbagai metode pencegahan,
diagnosis, dan pengobatan terhadap para pengidap gangguan mental.
Pada
tahun 1950, organisasi mental hygiene terus bertambah, yaitu dengan berdirinya
National Association for Mental Health. Gerakan mental hygiene ini terus
berkembang sehingga pada tahun 1975 di Amerika terdapat lebih dari seribu
perkumpulan kesehatan mental. Di belahan dunia lainnya, gerakan ini
dikembangkan melalui The World Federation forMental Health dan The World Health
Organization.
v Pendekatan Kesehatan Mental
1. Orientasi Klasik
Hilangnya
gejala gangguan mental, penyembuhan konflik trauma masa lalu. Terhindarnya
individu dari gejala gangguan jiwa(neurosis) dan gejala penyakit jiwa(
psikosis), berupa simptom-simptom negatif yang menimbulkan rasa tidak sehat,dan
bisa mengganggu efisiensi yang biasanya tidak bisa dikuasai individu.
Kelemahan
dari Orientasi ini adalah :
a. Simptom-simptom bisa terdapat juga pada
individu normal
b. Rasa tidak nyaman dan konflik bisa
membuat individu berkembang dan memperbaiki diri.
c. Sehat atau sakit tidak bisa didasarkan
pada ada atau tidaknya keluhan.
2. Penyesuaian Diri
Kemampuan
menyesuaiakan diri dg tuntutan diri sendiri & norma sosial , belajar respon
adaptif. Penyesuaian diri (Menninger,1947) : perubahan dalam diri yang
diperlukan untuk mengadakan hubungan yang memuaskan dengan orang
lain/lingkungan.
Individu
bermasalah : apabila tidak mampu menyesuaikan diri terhadap tuntutan dari luar
dirinya, dengan kondisi baru serta dalam mengisi peran yang baru.
Normal
dalam Orientasi ini :
a)
Normal secara statistik : yaitu apa adanya.
b)
Normal secara normatif : individu bertingkah laku sesuai budaya setempat.
3. Pengembangan Potensi
Pengetahuan
dan perbuatan yang tujuannya untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala
potensi dan bkat yang ada semaksimal mungkin sehingga membawa pada kebahagiaan
diri dan orang lain serta terhindar dari gangguan penyakit jiwa. Tokohnya:
Maslow. Allport,Rogers, Fromm.
Kriteria
mental sehat dalam orientasi ini :
a.
Punya pedoman normatif pribadi( bisa memilih apa yang baik dan menolak yang
buruk)
b.
Menunjukan otonomi independen , mawas diri dalam mencari nilai-nilai pedoman.
Referensi:
Yustinus Semiun. OFM. 2006. Kesehatan
Mental. Yogyakarta : Kanisius
Siswanto. S. Psi. Msi. 2007. Kesehatan Mental,Konsep,Cakupan dan
Perkembangan. Yogyakarta : Andi.
B. Teori Kepribadian Sehat
1.
Aliran Psikoanalisa
Psikolanalisa
merupakan salah satu aliran besar dalam dunia psikologi, pencetus awalnya
adalah Sigmund Freud, berikut ini akan dijabarkan teori psikoanalisa dari
Sigmund Freud dan kemudian mengaitkannya dengan kepribadian yang sehat.
Sepanjang
masa hidupnya, Freud adalah seorang yang produktif. Meskipun ia dianggap sosok
yang kontroversial dan banyak tokoh yang berseberangan dengan dirinya, Freud
tetap diakui sebagai salah seorang intelektual besar. Pengaruhnya bertahan
hingga saat ini, dan tidak hanya pada bidang psikologi, bahkan meluas ke
bidang-bidang lain. Karyanya, Studies in Histeria (1875) menandai berdirinya
aliran psikoanalisa, berisi ide-ide dan diskusi tentang teknik terapi yang
dilakukan oleh Freud.
Pemikiran
dan teori
1. Freud membagi mind ke dalam
consciousness, preconsciousness dan unconsciousness . Dari ketiga
aspekkesadaran, unconsciousness adalah yang paling dominan dan paling penting
dalam menentukan perilaku manusia (analoginya dengan gunung es). Di dalam
unsconscious tersimpan ingatan masa kecil, energi psikis yang besar dan
instink. Preconsciousness berperan sebagai jembatan antara conscious dan
unconscious, berisi ingatan atau ide yang dapat diakses kapan saja.
Consciousness hanyalah bagian kecil dari mind, namun satu-satunya bagian yang
memiliki kontak langsung dengan realitas.Freud mengembangkan konsep struktur
mind di atas dengan mengembangkan “mind apparatus”, yaitu yang dikenal dengan
struktur kepribadian Freud dan menjadi konstruknya yang terpenting, yaitu id ,
ego, super ego
Id (Das es)
Yaitu
aspek biologis adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya
tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan
kepuasan yang segera. Das es = System der unbewussten. Das es merupakan dunia
batin atau subjektif manusia, dan tidak mempunyai hubungan langsung dengan
dunia objektif. Das es berisikan hal hal dibawa sejak lahir, termasuk instink.
Pedoman dalam berfungsinya das es ialah menghindarkan diri dari ketidak enakan
dan mengejar keenakan (prinsip kenikmatan / prinsip keenakan)
Ego (Das
Ich)
Yaitu
aspek psikologis. Berkembang dari id, struktur kepribadian yang mengontrol
kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Superego berkembang
dari ego saat manusia mengerti nilai baik buruk dan moral. Das Ich : system der
Bewussten vorbewussten. Timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan
secara baik dengan dunia kenyataan ( realitat ). Prinsip kenyataan / prinsip
realitas ( realitatsprinzip, the realityprinciple ) dan bereaksi dengan proses
sekunder ( sekundar vorgang , secomdary process ).
Superego
(Das ueber ich)
Yaitu
aspek sosiologis. Merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu
atas tuntutan moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, superego menghukum ego
dengan menimbulkan rasa salah. Das ueber ich fungsi pokok : menentukan apakah
sesuatu benar atau salah, pantas atau tidak, susila atau tidak, dan demikian pribadi
dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat.Conscientia : menghukum orang
dengan memberikan rasa dosa. Ich Ideal adalah menghadiahi orang dengan rasa
bangga akan dirinya.
Keperibadian
yang normal (sehat) :
1) Kepribadian yang sehat menurut Freud
adalah jika individu bergerak menurut pola perkembangan yang ilmiah.
2) Hasil dari belajar dalam mengatasi
tekanan dan kecemasan.
3) Kesehatan mental yang baik adalah hasil
dari keseimbangan antara kinerja super ego terhadap id dan ego. Prayitno
(1998:42)
2. Aliran Behavioristik
Behaviorisme
muncul sebagai kritik lebih lanjut dari strukturalisme Wundt. Meskipun didasari
pandangan dan studi ilmiah dari Rusia, aliran ini berkembang di AS, merupakan
lanjutan dari fungsionalisme.
Prinsip
dasar behaviorisme:
1)
Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan
dari jiwa atau mental yang abstrak
2) Aspek
mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem
untuk sciene, harus dihindari.
3) Penganjur
utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek
yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
4) Dalam
perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para
behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya
pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan
mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt
behavior tetap terjadi.
5)
Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat
positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.
6)
Banyak ahli (a.l. Lundin, 1991 dan Leahey, 1991) membagi behaviorisme ke dalam
dua periode, yaitu behaviorisme awal dan yang lebih belakangan.
3. Aliran Humanistik
Istilah
psikologi humanistik (Humanistic Psychology) diperkenalkan oleh sekelompok ahli
psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan
Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh
atas pemikiran intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalah
psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai
“kekuatan ketiga” (a third force) karena humanistik muncul sebagai kritik
terhadap pandangan tentang manusia yang mekanistik alabehaviorisme dan
pesimistik ala psikoanalisa.
Kepribadian
yang sehat menurut humanistic, perilaku yang mengarah pada aktualisasi diri:
1)
Menjalani hidup seperti seorang anak, dengan penyerapan dan konsentrasi
sepenuhnya.
2)
Mencoba hal-hal baru ketimbang bertahan pada cara-cara yang aman dan tidak
berbahaya.
3) Lebih
memperhatikan perasaan diri dalam mengevaluasi pengalaman ketimbang suara
tradisi,
otoritas,
atau mayoritas.
4)
Jujur; menghindari kepura-puraan dalam “bersandiwara”.
5) Siap
menjadi orang yang tidak popular bila mempunyai pandangan sebagian besar orang.
6)
Memikul tanggung jawab.
7)
Bekerja keras untuk apa saja yang ingin dilakukan.
8)
Mencoba mengidentifikasi pertahanan diri dan memiliki keberanian untuk
menghentikannya.
v
Membedakan
aliran psikoanalisa, behavioristik, humanistik tentang kepribadian sehat
1.
PSIKOANALISA
Aliran
psikoanalisa melihat manusia dari sisi negatif, alam bawah sadar (id, ego,
super ego), mimpi dan masa lalu. Aliran ini mengabaikan Potensi yang dimiliki
oleh manusia.
Pandangan
kaum psikoanalisa, hanya memberi kepada kita sisi yang sakit atau kurang, ‘sisi
yang pincang’ dari kodrat manusia, karna hanya berpusat pada tingkah laku yang
neuritis dan psikotis.
Sigmund
freud dan orang-orang yang mengikuti ajarannya mempelajari kepribadian yang
terganggu secara emosional, bukan kebribadian yang sehat; atau kebribadian yang
paling buruk dari kodrat manusia, bukan yang paling baik.
Jadi,
aliran ini memberi gambaran pesimis tentang kodrat manusia, dan manusia
dianggap sebagai korban dari tekanan-tekanan
biologis dan konflik masa kanak-kanak.
2.
BEHAVIORISME
Aliran
behaviorisme memperlakukan manusia sebagai mesin, yaitu di dalam suatu system
kompleks yang bertigkah laku menurut cara-cara yang sesuai dengan hukum. Dalam
pandangan kaum behavioris, individu digambarkan sebagai suatu organisme yang
bersifat baik, teratur, dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas,
kegembiraan hidup, berkreativitas, seperti alat pengatur panas.
Jadi,
manusia dilihat oleh para behavioris sebagai orang-orang yang memberikan
respons secara pasif terhadap stimulus-stimulus dari luar dan manusia di anggap
tidak memiliki diri sendiri.
3.
HUMANISTIK
Para
ahli psikologi humanistik, telah memiliki sudut pandang yang segar terhadap
kodrat manusia. Apa yang mereka lihat adalah suatu tipe individu yang berbeda
dari apa yang digambarkan oleh behaviorisme dan psikoanalisa, yaitu
bentuk-bentuk psikologi tradisional. Aliran ini menganggap setiap orang memiliki
kemampuan untuk lebih baik.
Bagi
ahli-ahli psikologi humanistik, manusia jauh lebih banyak memiliki potensi.
Meskipun kebanyakan ahli psikologi humanistik tidak menyangkal bahwa
stimulus-stimulus dari luar, instink-instink, dan konflik-konflik masa
kanak-kanak mempengaruhi kebribadian, namun mereka tidak percaya bahwa manusia
merupakan korban yang tidak dapat
berubah dari kekuatan-kekuatan negatif.
Manusia
harus dapat mengatasi masa lampau, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan.
Manusia juga harus berkembang dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan negatif yang
secara potensial menghambat.
Gambaran
ahli psikologi humanistik tentang kodrat manusia adalah optimis dan penuh
harapan. Mereka percaya terhadap kapasitas manusia untuk memperluas,
memperkaya, mengembangkan, dan memenuhi dirinya, untuk menjadi semuanya menurut
kemampuan yang ada.
Para
pendukung gerakan potensi manusia mengemukakan bahwa ada suatu tingkat
pertumbuhan dan perkembangan yang sangat diperlukan, yang
melampaui’normalitas’. Mereka berpendapat bahwa manusia perlu memperjuangkan
tingkat pertumbuhan yang lebih maju supaya merealisasikan atau
mengaktualisasikan semua potensinya, dan tidak cukup hanya seseorang bebas dari
sakit emosional. Dengan kata lain, tidak adanya tingkah laku neurotis atau
psikotis, tidak cukup untuk menilai seseorang sebagai pribadi yang sehat. Tidak
adanya sakit emosional hanya merupakan suatu langkah pertama yang diperlukan
untuk pertumbuhan dan pemenuhan, karna seorang individu harus mencapai sesuatu
yang lebih jauh lagi.
4. Pendapat Allport
Memahami
dan menjelaskan perkembangan proplum sebagai dasar perkembangan kepribadian
yang sehat. Gambaran kodrat manusia yang diutaran Allport adalah positif, penuh
harapan, dan menyanjung-nyanjung.
Allport
lebih optimistis tentang kodrat manusia daripada Freud, dan ia memperlihatkan
suatu keharuan yang luar biasa terhadap manusi, sifat-sifatnya yang tampaknya
bersumber pada masa kanak-kanaknya. Seperti di kemukakan, pandangan-pandangan
pribadi dan profesional dari Allport adalah positif, penuh harapan, dan
menyanjung-nyanjung. Karena itu salah satu pendekatan yang berguna terhadap
pemahaman segi pandangan psikologis Allport adalah mengemukakan tema-tema pokok
dari teorinya tentang kepribadian dan menunjukkan bagaimana tema-tema itu
berbeda dari apa yang terdapat pada Freud.
Allport
tidak percaya bahwa orang-orang yang matang dan sehat dikontrol dan dikuasai
oleh kekuatan-kekuatan tak sadar kekuatan-kekuatan yang tidak dapat dilihat dan
dipengaruhi. Orang-orang yang sehat tidak didorong oleh konflik-konflik tak
sadar dan tingkah lakumereka tidak ditentukan oleh setan-setan yang ada jauh
dalam mereka.
Kepribadian-kepribadian
yang matang tidak dikontrol oleh trauma-trauma dan konflik-konflik masa
kanak-kanak. Orang-orang yang sehat dibimbing dan diarahkan oleh masa sekarang
dan oleh intensi-intensi ke arah masa depan dan antisipasi-antisipasi masa
depan. Pandangan orang yang sehat adalah ke depan, kepada peristiwa-peristiwa
kontemporer dan peristiwa-peristiwa yang akan datang dan tidak mundur kembali
kepada peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak. Segi pandangan yang sehat ini
memberi jauh lebih banyak kebebasan dalam memilih dan bertindak. Karena Allport
mengetahui perbedaan-perbedaan antara manusia yang neurotis dan manusia yang
sehat ini, maka dia lebih suka mempelajari hanya orang-orang dewasa yang
matang.
Tujuh kriteria
kepribadian yang matang :
1. Perluasan perasaan diri
2. Hubungan diri yang hangat dengan
orang-orang lain
3. Keamanan emosional
4. Persepsi realistis
5. Keterempilan-keterampilan dan tugas-tugas
6. Pemahaman diri
7. Filsafat hidup yang mempersatukan
Referensi:
Baihaqi,
MIF. (2008). Psikologi Pertumbuhan, Kepribadian Sehat Untuk Mengembangkan
Optimisme. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Hlm. 4-6.
Lindzey,
gardner.1993.Teori – Teori Psikodinamik.Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Schultz,
Duane.1991.Psikologi Pertumbuhan.Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Tidak ada komentar:
Posting Komentar